Tujuh Alasan Ibu mempunyai Karakter Cerewet dan Suka Ngatur
Beberapa saat lamanya, sebelum ibu mertua mulai bercerita tentang dirinya,
"Kau sekarang pendiam, karena anakmu belum lahir..." katanya.
"Tunggulah kalau anakmu sudah mulai nakal. Saya juga dulu begitu..." sambung ibu mertua lagi.
"Dulu suaraku tidak didengar tetangga sebelah..., tapi serta kakakmu mulai nakal-nakal...aduhh...didengar orang-orang sudah suaraku bateriak..."
Yang dimaksud kakakmu adalah suamiku. Sebelum anak pertama kami lahir, aku memanggilnya kakak, dan suami memanggilku adek.
Sepotong cerita di atas menunjukkan kalau seorang wanita akan mempunyai karakter-karakter baru setelah mempunyai anak. Artinya keadaanlah yang membuatnya berubah.
Panik
Seorang ibu muda, yang notabene baru saja tumbuh naluri keibuannya, mendengar tangisan bayi bisa terpengaruh sedemikian rupa. Perasaannya bisa saja sedih, khawatir, miris, sampai panik harus berbuat apa agar bayi kecilnya bisa berhenti menangis.
Tidak jarang tangis seorang bayi mempunyai "oktaf" tinggi, disebabkan bayi dalam keadaan sakit, kejang, dan sebagainya.
Tangis bayi di kelompok posyandu saat mereka diimunisasi pun, bisa membuat seorang ibu muda merasa gemetar dan tidak berani menggendong bayinya sendiri. Tidak jarang suami ataupun nenek dari si bayi biasanya turut mendampingi.
Rasa panik seperti ini mengakibatkan sifat protektif tumbuh dalam diri seorang ibu, sedikit demi sedikit.
Cita-cita menjadi beban
Hari-hari baru, berjalan penuh kesibukan dan kebahagiaan bagi seorang ibu muda. Dinikmatinya setiap moment lucu dan menggemaskan dari sang bayi. Diberikannya sentuhan lembut penuh kasih sayang. Dengan segala usaha agar bayi yang ia rawat bisa merasa nyaman dan segala sesuatunya menjadi sempurna. Mulai dari tempat tidur lucu, pakaian yang wangi, makanan pendamping ASI yang sehat non kimia, mainan yang banyak, dokter yang terbaik, dan seterusnya.
Tanpa terasa cita-cita seperti ini akan membebani hati seorang ibu muda, dan lambat laun akan menjadikannya "ahli" dalam menuliskan deretan panjang peraturan untuk melindungi bayinya.
- Sang bayi tidak boleh mempunyai tempat tidur yang motifnya biasa, harus yang cantik
- Pakaian bayi tidak boleh lupa dibilas dengan pewangi saat dicuci
- Peralatan makan bayi harus dicuci secara khusus dan tidak boleh digunakan kecuali untuk acara makan si bayi
- Sayuran untuk membuat MPASI harus tersedia di kulkas dan tidak boleh terpakai untuk menu keluarga
- Sayuran untuk MPASI harus organik tetmasuk telur ayam harus dari ayam kampung
- Bila bayi kurang sehat atau mempunyai keluhan, segera ke dokter terbaik
- Stroller bayi harus yang desain terbaik dan aman
- Camilan untuk bayi todler harus sesuai petunjuk dokter ataupun kelas MPASI nya dst
Terbayang kan, betapa seorang ibu akan mempunyai karakter yang baru begitu mempunyai anak. Peraturan demi peraturan akan bertambah panjang, sesuai perkembangan usia sang anak.
Trauma saat bayinya sakit
Seorang bayi, dalam perkembangannya tidak akan lepas dari yang namanya sakit. Hal ini wajar mengingat sistem kekebalan tubuh mereka masih lemah dan rwntan dari berbagai serangan virus dan bakteri.
Pada bayi baru lahir contohnya, belum memiliki kelenjar kulit yang sempurna. Hal ini terkadang berakibat sang bayi akan mengalami gangguan seperti biang keringat, "biji jagung", bercak putih dan sebagainya.
Belum lagi beberapa penyakit lain yang umum diderita bayi yang diakibatkan dari virus seperri panas, demam, kejang, dan diare.
Setelah melewati masa-masa pengobatan dan pemulihan, biasanya seorang ibu menjadi lebih protektif lagi terhadap bayinya, karena takut akan terjadi hal yang sama. Sampai di sini, seorang ibu akan memiliki bibit-bibit sifat cerewet yang mungkin saja di kemudian hari akan lebih berkembang dan dikomplen oleh anak-anaknya yang beranjak remaja.
![]() |
| Foto: Pinterest.com |
Tujuan yang diinginkan orang tua
Waktu berjalan dan hari berlalu menjadi bulan-bulan yang indah, menjadi tahun-tahun yang membahagiakan, sebelum akhirnya sampai pula pada fase selanjutnya yaitu masa-masa sang anak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang pertama atau SMP.
Seorang bayi mungil dan lemah kini sudah menjelma menjadi anak pra remaja yang sehat, lincah, ceria, dan punya banyak teman.
Di usianya sekarang seorang anak mulai mempunyai energi yang besar untuk berpindah dari masa kanak-kanak, ke masa remaja.
Orang tua pun spontan meletakkan cita-citanya di bahu sang anak. Yaitu keinginan agar anaknya menjadi anak yang sholeh/sholeha, dapat membanggakan keluarga, dapat berbakti kepada kedua orang tua, dan seterusnya.
Di satu sisi semua ini terasa wajar. Seorang anak adalah cita-cita bagi kedua orang tuanya, penerus sebuah keluarga, dan pewaris nama besar kedua orang tuanya.
Tanpa disadari, akan lahir berbagai tatanan, peraturan, larangan, dan bahkan paksaan dari orang tua kepada anaknya karena cita-cita tersebut.
Tersugesti orang lain
Tidak jarang orang tua bersikap kaku kepada anak-anaknya, disebabkan keinginan agar anaknya bisa sukses seperti orang lain yang dilihatnya.
Sugesti seperti ini tidaklah salah, tetapi harus menyesuaikan kondisi, bakat dan kemampuan anak yang bersangkutan.
Ingin lebih baik dari dirinya
Seringkali orang tua berucap kepada anak-anaknya:
"Jangan seperti bapak, hidupnya susah..."
"Jangan ikuti jejak bapak, kamu harus jadi orang..."
"Jangan jadi orang kecil seperri bapak...."
Demikianlah antara lain alasan mengapa ibu sering dianggap cerewet, bawel, dan banyak peraturan oleh anak-anaknya.
Seorang ibu dalam perannya mendidik anak-anak, lebih mempunyai waktu bersama mereka ketimbang seorang ayah. Atau seorang ibu lebih komunikatif kepada anak-anaknya, sementara seorang ayah lebih seperti pemain belakang layar yang hanya memantau dan sekali-sekali mengingatkan.
So, bila kamu memiliki gesekan atau konflik sesuai judul di atas, setelah mengetahui alasan dan latar belakang tersebut, akan lebih mudah mengambil penyelesaian, bukan.
Selamat jadi anak yang baik...

Komentar
Posting Komentar